Konawe, Terbitsultra.id – Bantuan mesin pemanen padi Kombein D70 Pro dari Kementerian Pertanian untuk Kelompok Tani Karya Bakti, Desa Anggadola, Kecamatan Wonggeduku Barat (Wobar), Kabupaten Konawe, memicu tanda tanya besar.
Alih-alih membantu petani meningkatkan produktivitas panen, alat tersebut justru “menghilang” dan kini berada di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim) tanpa pengawasan jelas.
Mesin pemanen yang diturunkan Dinas Pertanian Provinsi Sultra itu awalnya diterima dengan harapan mampu meringankan kerja petani. Namun, setelah dilakukan pengecekan, alat tersebut ternyata tidak disimpan oleh Ketua Kelompok Tani Karya Bakti, Hasan, melainkan dikelola oleh kerabatnya berinisial S di Koltim.
Salah satu warga Anggadola yang enggan disebutkan namanya mengaku heran. Ia menduga mesin tersebut sudah dijual oleh oknum tertentu karena tak pernah kembali ke desa.
“Pertama datang, mesin ini ada di rumah saya. Kuncinya diminta, katanya mau dibawa kerja di Abuki. Tapi setelah dicek, di Abuki tidak ada. Ternyata sudah di Koltim,” ujarnya.
Menurutnya, sejak itu mesin pemanen “mengendap” di Koltim dan hanya kembali sebentar saat ada pemeriksaan fisik. Setelah pemeriksaan, alat itu kembali hilang.
Ketua Kelompok Tani, Hasan, ketika ditemui, mengakui mesin tersebut memang berada di Koltim dan sedang digunakan. Ia juga membenarkan alat itu sempat berpindah tangan, namun membantah adanya penjualan.
“Mesin itu kerja di Koltim. Waktu pemeriksaan fisik sempat kembali, habis itu dibawa lagi. Kalau soal dijual, tidak. Memang pindah tangan tapi tidak dijual,” katanya, Jumat (28/11/2025).
Namun pengakuan Hasan justru menimbulkan pertanyaan baru. Ia mengaku tidak mengetahui kondisi terkini mesin itu, bahkan tidak ikut saat alat tersebut dibawa ke Koltim. Yang lebih mengherankan, tidak ada koordinasi antara dirinya dan kerabat yang mengelola mesin tersebut.
Kepala Desa Anggadola, Yusran Taleo, ST, mengaku ikut menandatangani dokumen saat penyerahan mesin oleh Dinas Pertanian Provinsi Sultra. Namun, ia tak tahu di mana alat itu digunakan sekarang.
“Saya sudah sampaikan supaya kalau pekerjaan selesai, alat itu dibawa pulang. Soal keberadaannya sekarang, hanya ketua kelompok yang tahu,” tegas Yusran.
Hingga kini, keberadaan Kombein D70 Pro tersebut masih meninggalkan banyak misteri antara penggunaan tanpa pelaporan, perpindahan tangan, hingga dugaan jual-beli. Sementara petani Anggadola yang seharusnya terbantu, justru belum pernah merasakan manfaat alat yang diklaim tengah “bekerja” jauh dari desa.





















