Konawe, Terbitsultra.id – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Konawe menggelar aksi demonstrasi dan melaporkan dugaan transaksi mencurigakan yang menyeret seluruh komisioner KPUD Konawe Utara serta Kasubag KUL. Aksi yang berlangsung di depan Kantor Kejaksaan Negeri Konawe ini menjadi salah satu tekanan publik terbesar terhadap penanganan dugaan korupsi dana hibah Pilkada di daerah tersebut.
Dalam aksinya, massa PMII tidak hanya berorasi. Mereka datang dengan membawa dokumen yang disebut sebagai bukti transaksi dan rekaman komunikasi yang diduga berkaitan dengan aliran dana korupsi hibah Pilkada Konawe Utara. Nilainya disebut “fantastis” dan diyakini jauh melampaui kewajaran.
Ketua PC PMII Konawe, Harbiansyah, menegaskan bahwa laporan tersebut merupakan komitmen mahasiswa dalam menjaga integritas penyelenggara pemilu.
“Kami memiliki bukti konkret transaksi seluruh komisioner KPUD dan Kasubag KUL Konut. Nilainya fantastis. Hari ini tidak hanya aksi, tetapi juga penyerahan resmi bukti ke Kejaksaan Negeri Konawe,” ujarnya.
PMII menilai bahwa aparat penegak hukum harus bergerak transparan, objektif, dan tanpa tebang pilih. Mereka mendesak agar berbagai pihak yang diduga terlibat segera ditetapkan sebagai tersangka.
Tiga Tuntutan PMII Konawe:
1. Kejaksaan diminta transparan dan objektif dalam menetapkan tersangka kasus dugaan korupsi KPUD Konut.
2. Mendesak Kejaksaan segera menetapkan Sekretaris, seluruh komisioner, dan Kasubag KUL KPUD Konut sebagai tersangka karena diduga kuat terlibat.
3. Mendukung Kejaksaan untuk segera menetapkan tersangka korupsi dana hibah Pilkada senilai Rp1,6 miliar dari total anggaran Rp45 miliar.
Harbiansyah juga menegaskan, jika proses hukum dianggap lamban atau tidak objektif, PMII siap kembali dengan aksi yang lebih besar.
“Jika Kejaksaan tidak serius, kami akan turun lagi dengan massa lebih banyak. Ini komitmen untuk mengawal akuntabilitas publik,” tegasnya.
Aksi ditutup dengan penyerahan resmi berkas bukti transaksi kepada Kejari Konawe. PMII menyebut langkah tersebut sebagai bentuk nyata keberpihakan mahasiswa pada pemberantasan korupsi.
“Bagi kami, korupsi adalah musuh bersama. Mengawalnya sampai tuntas adalah harga mati,” tutup Harbiansyah.





















