TERBITSULTRA.ID, KONAWE – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengeluarkan kecaman keras terhadap pola lama yang terus dipraktikkan dalam penanganan konflik di tengah masyarakat.
Menurut PMII Konawe, aparat kepolisian kerap dibenturkan dengan rakyat karena adanya kepentingan oligarki yang ingin melanggengkan kekuasaan dan mengamankan kepentingan ekonomi segelintir elit.
Ketua PC PMII Konawe, Harbiansyah menegaskan bahwa peran kepolisian sebagai pengayom dan pelindung masyarakat semakin bergeser. Aparat seringkali dijadikan “tameng” untuk menghadapi rakyat yang sedang memperjuangkan hak-haknya.
“Polisi dibenturkan dengan masyarakat bukan karena keinginan mereka sendiri, tetapi karena adanya kepentingan oligarki di balik layar. Ini adalah pola lama yang terus diwariskan dan menjadi luka bagi demokrasi kita,” ungkap Harbiansyah.
Ia menambahkan, kondisi ini berbahaya karena memperlemah kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum. Rakyat yang seharusnya merasa dilindungi justru memandang kepolisian sebagai musuh.
“Jika pola ini terus dipelihara, yang rugi adalah bangsa sendiri. Kepolisian kehilangan marwah, masyarakat kehilangan kepercayaan, sementara oligarki terus menikmati hasilnya,” tegasnya.
PC PMII Konawe menilai bahwa insiden aparat melindas pengemudi ojek online hingga meninggal dunia adalah bukti nyata bagaimana rakyat kerap menjadi korban dalam relasi timpang ini.
“Tragedi itu bukan hanya soal pelanggaran kemanusiaan, tetapi juga potret bagaimana aparat bisa terjebak dalam pusaran kepentingan elit yang mengorbankan rakyat kecil,” ujarnya.
Sebagai respons, PC PMII Konawe bersama kelompok *Cipayung Plus* akan menggelar aksi solidaritas di Polres Konawe. Aksi ini bertujuan untuk menegaskan bahwa rakyat tidak boleh terus-menerus menjadi korban kekerasan aparat yang diarahkan oleh kepentingan oligarki.
“Kami akan turun ke jalan. Ini bukan sekadar solidaritas bagi korban, tapi juga upaya membongkar pola lama yang terus menjadikan polisi dan rakyat sebagai pihak yang dipertentangkan. Yang seharusnya dilawan adalah ketidakadilan dan kesewenang-wenangan oligarki, bukan rakyat,” tegas Harbiansyah.
PMII Konawe juga menyerukan agar kepolisian segera melakukan refleksi kelembagaan dan mengembalikan jati dirinya sebagai pengayom masyarakat.
“Kami minta polisi tidak lagi mau diperalat. Rakyat adalah saudara, bukan musuh. Kepolisian harus kembali berdiri bersama rakyat, bukan di hadapan oligarki,” pungkasnya. (Rls)




















